Jumat, 29 Maret 2013

Mentally Burdened


Kalau minggu lalu saya mengalami minggu yang berat gara-gara tugas dari kampus, maka minggu ini saya mengalami tekanan mental. Saya tidak gila, setidaknya belum. Minggu ini saya mengalami 2 kali shock berat. Yang pertama adalah ketika saya bermimpi sesuatu yang mengerikan. Di dalam mimpi itu, ayah saya pergi jauh dan tidak kembali. Beliau berkata bahwa beliau bangga pada saya dan memutuskan sudah waktunya untuk pergi. Begitu saja. Padahal saya merasa saya belum melakukan apa-apa untuk beliau. Bahkan saya lebih sering tidak mengindahkan perkataannya. Dari mana saya bisa membanggakan beliau? Ketika saya bangun, mata saya telah penuh dengan air mata. Dan sepanjang beberapa menit ke depan, air mata saya tidak berhenti mengalir. Ketika itu juga saya berdoa kepada Tuhan. Saya benar-benar tidak ingin mengalami apa yang saya lihat dari mimpi itu. Seharian itu, saya mencoba berkonsentrasi pada pekerjaan kampus, tapi setiap kali teringat mimpi itu, saya menjadi sedih.

Lalu shock yang kedua terjadi hanya berselang 2 hari sejak mimpi yang aneh itu. Ketika saya masih berada di kampus, adik saya mengirim sms yang memberitahu saya bahwa ada berita mengejutkan. Saya sudah khawatir terjadi apa-apa dengan ayah saya. Tapi untungnya tidak. Namun berita itu tidak kalah mengejutkan dari apa yang saya kira. Tante saya, adik dari mama saya, pindah dari rumah suaminya ke rumah saya, beserta dengan kedua anaknya yang masih kecil. Saya tidak pernah mendengar apa-apa dari para orang dewasa di rumah saya. Kenapa tiba-tiba seperti ini? Ketika akhirnya saya pulang dari kampus, saya mencoba untuk bersikap biasa dan menerima mereka di rumah saya. Tapi, apa yang saya lakukan hanya memasang topeng yang lain. Padahal hati saya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Otak saya dipenuhi berbagai macam pertanyaan yang sangat ingin saya cari tahu jawabannya. Tapi, kepada siapa saya harus mencari jawaban?

Pagi ini ketika bangun, saya merasa down sekali. Setelah kemarin kehujanan, saya terkena flu yang cukup parah. Biasanya jika ada sesuatu yang salah sedikit saja tentang saya, ibu saya pasti tahu dan segera menyuruh saya istirahat dan minum obat. Tapi kemarin, meskipun suara saya sengau sekali, beliau tidak mengatakan apa-apa. Ketika saya mencoba memancing suatu topik dengan mengatakan bahwa saya ingin memotong rambut saya, beliau hanya bertanya “potong rambut model apa?”. Setelah itu beliau kembali terfokus kepada adik sepupu saya yang sedang menggambar. Saya menunggu sejenak apabila beliau akan menyadari keberadaan saya, tetapi apa yang saya harapkan tidak terjadi. Pagi ini juga, saya ingin memakai kamar mandi, tapi masih ada tante yang memakai. Padahal saya sudah sengaja bangun siang agar memberi kesempatan bagi mereka untuk memakai kamar mandi. Tapi, ketika saya bangun pun kamar mandi masih dipakai.

Saya merasa sangat sendirian. Ini rumah saya, keluarga saya, ibu saya sendiri. Tapi nyatanya tidak seperti itu. Justru keluarga tante saya yang “menumpang” diperlakukan seperti keluarga sendiri. Sementara saya yang adalah anggota keluarga ini diperlakukan seperti “tamu”. Saya kesal dengan adik sepupu saya yang seenaknya memakai barang-barang saya dan menggunakannya tidak sebagaimana mestinya. Gitar saya diseret-seret di lantai, dimainkan tidak seperti seharusnya, dan rumah saya lebih acak-acakan daripada sebelumnya. Saya sakit dan butuh ketenangan untuk istirahat. Tapi itupun tidak bisa saya dapatkan di rumah saya sendiri. Bahkan ketika saya mengurung diri di kamar, satu-satunya tempat dimana saya seharusnya mendapat privasi, mereka datang mengganggu. Saya capek, kesal, dan merasa tidak ada seseorang pun yang mempertimbangkan bagaimana perasaan saya. Hingga akhirnya saya menangis.

Saya memiliki kebiasaan untuk mendengarkan musik ketika berada di kamar mandi. Setiap pagi, agar semangat, saya selalu menyalakan lagu di HP saya sementara saya mandi. Tadi pagi, setelah kesal dan menangis menumpahkan semua perasaan saya, saya akhirnya menggunakan kamar mandi. Saya selalu men-shuffle lagu-lagu yang ada di HP. Dan tadi, tiba-tiba lagu “You Raise Me Up” yang biasanya jarang muncul justru muncul. Dari situ saya sadar, di saat keluarga saya menjauhi saya, Tuhan tidak pernah menjauhi saya. Ia mengingatkan saya, bahwa ketika saya jatuh, mengalami banyak beban dalam kehidupan, Ia akan mengangkat saya. Ia berjanji untuk mengangkat saya hingga saya bisa melewati badai dan mencapai puncak gunung. Di sanalah saya akan merasa jauh lebih kuat dari sebelumnya. Saya kembali menangis merasakan kehadiran-Nya di saat saya merasa sangat sendirian.

Saya lantas berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, saya ingin menjadi lebih kuat. Saya sadar kalau bukan hanya saya yang mendapat pergumulan, tapi ayah, ibu, tante, dan bahkan kedua sepupu saya juga. Saya ingin menjadi orang yang lebih kuat agar saya juga dapat diandalkan di masa-masa sulit. Saya tidak ingin menjadi beban tambahan untuk ayah dan ibu saya di rumah. Saya ingin menjadi pribadi yang dewasa. Saya tahu bahwa Engkau akan selalu ada di samping saya, mengangkat saya ketika saya jatuh. Jadi, saya ingin menyerahkan hidup saya ke dalam tangan penyertaanMu Tuhan. Kalau Engkau membiarkan ini terjadi dalam hidup saya, saya yakin ada rencana yang indah dibalik keberadaan setiap kami di sini. Dan saya ingin agar saya dapat melakukan yang terbaik untuk rencanaMu.”

Terima kasih Tuhan karena Engkau telah mengingatkan saya bahwa Engkau benar-benar Tuhan yang hidup, Tuhan yang nyata, Tuhan yang tak pernah meninggalkan saya. Saya tidak pernah merasa lebih diperhatikan daripada satu minggu ini dimana saya amat merasakan kehadiranMu dalam hidup saya. Walaupun saya tidak bisa melihat Engkau secara kasat mata, saya merasakan kehadiranMu lebih dari apa yang dapat saya lihat. Thank You Jesus. 

Selasa, 19 Maret 2013

Just a Little Introduction


Kebahagiaan paling besar adalah mengubah rasa itu menjadi karya

Kalimat ini saya dengar dari salah seorang pembicara yang saya ikuti seminarnya. Bagi seorang seniman, menghasilkan suatu karya dapat memberikan suatu perasaan yang tak ternilai harganya. Suatu karya adalah ekspresi yang dirasakan oleh si pembuat karya dan ingin diperlihatkan kepada orang lain. Saya sangat menyadari perasaan ini karena saya adalah salah seorang seniman juga.

Ketika mendengar kalimat ini, saya langsung teringat pada kejadian sekitar 2 tahun yang lalu. Pada masa-masa inilah saya mulai mengenal sebagian kecil dari dunia. Sebelumnya, saya adalah seseorang yang sangat tertutup, pendiam, dan puas hanya dengan dunia saya sendiri yang begitu kecil. Dunia yang hanya terdiri oleh saya seorang. Pada masa transisi inilah saya mulai belajar banyak hal, merasakan apa yang belum pernah saya rasakan, dan belajar untuk melihat dari sudut pandang lain. Pada masa itu juga, saya sedang semangat-semangatnya belajar seni, khususnya menggambar manga. Ketika itu, menggambar manga adalah salah satu hal yang populer bagi anak seusia saya. Karena saya juga senang membaca komik dan tertarik dengan kebudayaan Jepang, maka saya pun belajar.

Saat itu, gambar saya jelek sekali. Ketika sekarang saya melihat gambar saya yang dulu saya ingin tertawa. Gambar saya begitu kaku dan jauh berbeda dengan apa yang saya lihat di komik-komik yang saya baca. Akan tetapi, di balik coretan-coretan itu, saya melihat semangat, kerja keras, pantang menyerah, dan kemauan untuk terus berusaha. Dari hal-hal inilah saya merasa kagum dan bangga terhadap diri saya saat itu. Saat itulah saya merasa inilah diri saya yang sebenarnya.

Pada masa itu pula saya mulai mengenal arti kata “mengasihi”. Dari dunia sebelumnya yang hanya ada saya seorang, saya mulai mengenal pribadi-pribadi lain yang berbeda. Bisa dibilang, merekalah cahaya yang menuntun saya untuk keluar dari kepompong yang nyaman dan berjuang menjadi kupu-kupu yang cantik. Tanpa saya sadari, dunia saya mulai berputar di sekeliling mereka. Demi orang-orang yang saya kasihi, saya merasa mampu melakukan apa saja. Dengan motivasi untuk menyenangkan mereka, saya mulai berjuang. Saya mulai giat berlatih dan mengasah kemampuan menggambar saya hingga akhirnya saya dapat menghasilkan suatu karya yang dapat saya banggakan dan ingin saya tunjukkan kepada mereka.

Saya sendiri adalah tipe orang yang plegmatis dan melankolis. Sehingga dalam beberapa waktu, saya akan sangat dikontrol oleh perasaan saya. Ketika menggambar, saya akan menuangkan semua perasaan saya ke dalam gambar tersebut. Jika gambar itu hasilnya bagus, maka saya pasti telah mencurahkan semua perasaan saya kedalamnya. Sesudah menyelesaikan sebuah karya yang bagus, saya akan tersenyum tanpa sadar dan mulai mengagumi itu. Perasaan yang saya rasakan ketika melihat hasil akhirnya tidak dapat dibandingkan dengan perasaan ketika saya sedang dalam proses menggambar. Perasaan ini jauh lebih luar biasa. Apalagi setelah saya memberikan gambar itu kepada orang lain dan mereka ikut tersenyum. Hati saya mungkin bisa meledak karena terlalu bahagia.

Jadi, saya tidak bisa lebih setuju lagi dari ini mengenai kalimat di atas. Kebanggaan terbesar memang saya rasakan ketika saya dapat mengubah rasa itu menjadi sebuah karya. Karya yang membuat saya dan orang-orang yang saya kasihi tersenyum. Saya bersyukur karena telah diingatkan lagi akan perasaan itu. Perasaan yang sempat saya lupakan selama hampir 2 tahun terakhir. Dan mulai saat ini, saya akan berjuang untuk bisa kembali bangkit dan menyalurkan perasaan luar biasa itu lagi.