“Kebahagiaan paling besar adalah
mengubah rasa itu menjadi karya”
Kalimat ini saya dengar dari
salah seorang pembicara yang saya ikuti seminarnya. Bagi seorang seniman,
menghasilkan suatu karya dapat memberikan suatu perasaan yang tak ternilai
harganya. Suatu karya adalah ekspresi yang dirasakan oleh si pembuat karya dan
ingin diperlihatkan kepada orang lain. Saya sangat menyadari perasaan ini
karena saya adalah salah seorang seniman juga.
Ketika mendengar kalimat ini,
saya langsung teringat pada kejadian sekitar 2 tahun yang lalu. Pada masa-masa
inilah saya mulai mengenal sebagian kecil dari dunia. Sebelumnya, saya adalah
seseorang yang sangat tertutup, pendiam, dan puas hanya dengan dunia saya
sendiri yang begitu kecil. Dunia yang hanya terdiri oleh saya seorang. Pada
masa transisi inilah saya mulai belajar banyak hal, merasakan apa yang belum
pernah saya rasakan, dan belajar untuk melihat dari sudut pandang lain. Pada
masa itu juga, saya sedang semangat-semangatnya belajar seni, khususnya
menggambar manga. Ketika itu, menggambar manga adalah salah satu hal yang
populer bagi anak seusia saya. Karena saya juga senang membaca komik dan
tertarik dengan kebudayaan Jepang, maka saya pun belajar.
Saat itu, gambar saya jelek
sekali. Ketika sekarang saya melihat gambar saya yang dulu saya ingin tertawa.
Gambar saya begitu kaku dan jauh berbeda dengan apa yang saya lihat di
komik-komik yang saya baca. Akan tetapi, di balik coretan-coretan itu, saya
melihat semangat, kerja keras, pantang menyerah, dan kemauan untuk terus
berusaha. Dari hal-hal inilah saya merasa kagum dan bangga terhadap diri saya
saat itu. Saat itulah saya merasa inilah diri saya yang sebenarnya.
Pada masa itu pula saya mulai
mengenal arti kata “mengasihi”. Dari dunia sebelumnya yang hanya ada saya seorang,
saya mulai mengenal pribadi-pribadi lain yang berbeda. Bisa dibilang, merekalah
cahaya yang menuntun saya untuk keluar dari kepompong yang nyaman dan berjuang
menjadi kupu-kupu yang cantik. Tanpa saya sadari, dunia saya mulai berputar di
sekeliling mereka. Demi orang-orang yang saya kasihi, saya merasa mampu
melakukan apa saja. Dengan motivasi untuk menyenangkan mereka, saya mulai
berjuang. Saya mulai giat berlatih dan mengasah kemampuan menggambar saya
hingga akhirnya saya dapat menghasilkan suatu karya yang dapat saya banggakan
dan ingin saya tunjukkan kepada mereka.
Saya sendiri adalah tipe orang
yang plegmatis dan melankolis. Sehingga dalam beberapa waktu, saya akan sangat
dikontrol oleh perasaan saya. Ketika menggambar, saya akan menuangkan semua
perasaan saya ke dalam gambar tersebut. Jika gambar itu hasilnya bagus, maka
saya pasti telah mencurahkan semua perasaan saya kedalamnya. Sesudah
menyelesaikan sebuah karya yang bagus, saya akan tersenyum tanpa sadar dan
mulai mengagumi itu. Perasaan yang saya rasakan ketika melihat hasil akhirnya
tidak dapat dibandingkan dengan perasaan ketika saya sedang dalam proses
menggambar. Perasaan ini jauh lebih luar biasa. Apalagi setelah saya memberikan
gambar itu kepada orang lain dan mereka ikut tersenyum. Hati saya mungkin bisa
meledak karena terlalu bahagia.
Jadi, saya tidak bisa lebih
setuju lagi dari ini mengenai kalimat di atas. Kebanggaan terbesar memang saya
rasakan ketika saya dapat mengubah rasa itu menjadi sebuah karya. Karya yang
membuat saya dan orang-orang yang saya kasihi tersenyum. Saya bersyukur karena
telah diingatkan lagi akan perasaan itu. Perasaan yang sempat saya lupakan
selama hampir 2 tahun terakhir. Dan mulai saat ini, saya akan berjuang untuk
bisa kembali bangkit dan menyalurkan perasaan luar biasa itu lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar