Kalau minggu lalu saya mengalami minggu yang berat gara-gara
tugas dari kampus, maka minggu ini saya mengalami tekanan mental. Saya tidak
gila, setidaknya belum. Minggu ini saya mengalami 2 kali shock berat. Yang
pertama adalah ketika saya bermimpi sesuatu yang mengerikan. Di dalam mimpi
itu, ayah saya pergi jauh dan tidak kembali. Beliau berkata bahwa beliau bangga
pada saya dan memutuskan sudah waktunya untuk pergi. Begitu saja. Padahal saya
merasa saya belum melakukan apa-apa untuk beliau. Bahkan saya lebih sering
tidak mengindahkan perkataannya. Dari mana saya bisa membanggakan beliau?
Ketika saya bangun, mata saya telah penuh dengan air mata. Dan sepanjang
beberapa menit ke depan, air mata saya tidak berhenti mengalir. Ketika itu juga
saya berdoa kepada Tuhan. Saya benar-benar tidak ingin mengalami apa yang saya
lihat dari mimpi itu. Seharian itu, saya mencoba berkonsentrasi pada pekerjaan
kampus, tapi setiap kali teringat mimpi itu, saya menjadi sedih.
Lalu shock yang kedua terjadi hanya berselang 2 hari sejak
mimpi yang aneh itu. Ketika saya masih berada di kampus, adik saya mengirim sms
yang memberitahu saya bahwa ada berita mengejutkan. Saya sudah khawatir terjadi
apa-apa dengan ayah saya. Tapi untungnya tidak. Namun berita itu tidak kalah
mengejutkan dari apa yang saya kira. Tante saya, adik dari mama saya, pindah
dari rumah suaminya ke rumah saya, beserta dengan kedua anaknya yang masih
kecil. Saya tidak pernah mendengar apa-apa dari para orang dewasa di rumah
saya. Kenapa tiba-tiba seperti ini? Ketika akhirnya saya pulang dari kampus,
saya mencoba untuk bersikap biasa dan menerima mereka di rumah saya. Tapi, apa
yang saya lakukan hanya memasang topeng yang lain. Padahal hati saya mengatakan
ada sesuatu yang tidak beres. Otak saya dipenuhi berbagai macam pertanyaan yang
sangat ingin saya cari tahu jawabannya. Tapi, kepada siapa saya harus mencari
jawaban?
Pagi ini ketika bangun, saya merasa down sekali. Setelah
kemarin kehujanan, saya terkena flu yang cukup parah. Biasanya jika ada sesuatu
yang salah sedikit saja tentang saya, ibu saya pasti tahu dan segera menyuruh
saya istirahat dan minum obat. Tapi kemarin, meskipun suara saya sengau sekali,
beliau tidak mengatakan apa-apa. Ketika saya mencoba memancing suatu topik
dengan mengatakan bahwa saya ingin memotong rambut saya, beliau hanya bertanya
“potong rambut model apa?”. Setelah itu beliau kembali terfokus kepada adik
sepupu saya yang sedang menggambar. Saya menunggu sejenak apabila beliau akan
menyadari keberadaan saya, tetapi apa yang saya harapkan tidak terjadi. Pagi
ini juga, saya ingin memakai kamar mandi, tapi masih ada tante yang memakai.
Padahal saya sudah sengaja bangun siang agar memberi kesempatan bagi mereka
untuk memakai kamar mandi. Tapi, ketika saya bangun pun kamar mandi masih
dipakai.
Saya merasa sangat sendirian. Ini rumah saya, keluarga saya,
ibu saya sendiri. Tapi nyatanya tidak seperti itu. Justru keluarga tante saya
yang “menumpang” diperlakukan seperti keluarga sendiri. Sementara saya yang
adalah anggota keluarga ini diperlakukan seperti “tamu”. Saya kesal dengan adik
sepupu saya yang seenaknya memakai barang-barang saya dan menggunakannya tidak
sebagaimana mestinya. Gitar saya diseret-seret di lantai, dimainkan tidak
seperti seharusnya, dan rumah saya lebih acak-acakan daripada sebelumnya. Saya
sakit dan butuh ketenangan untuk istirahat. Tapi itupun tidak bisa saya
dapatkan di rumah saya sendiri. Bahkan ketika saya mengurung diri di kamar,
satu-satunya tempat dimana saya seharusnya mendapat privasi, mereka datang
mengganggu. Saya capek, kesal, dan merasa tidak ada seseorang pun yang
mempertimbangkan bagaimana perasaan saya. Hingga akhirnya saya menangis.
Saya memiliki kebiasaan untuk mendengarkan musik ketika
berada di kamar mandi. Setiap pagi, agar semangat, saya selalu menyalakan lagu
di HP saya sementara saya mandi. Tadi pagi, setelah kesal dan menangis
menumpahkan semua perasaan saya, saya akhirnya menggunakan kamar mandi. Saya
selalu men-shuffle lagu-lagu yang ada di HP. Dan tadi, tiba-tiba lagu “You
Raise Me Up” yang biasanya jarang muncul justru muncul. Dari situ saya sadar,
di saat keluarga saya menjauhi saya, Tuhan tidak pernah menjauhi saya. Ia
mengingatkan saya, bahwa ketika saya jatuh, mengalami banyak beban dalam
kehidupan, Ia akan mengangkat saya. Ia berjanji untuk mengangkat saya hingga
saya bisa melewati badai dan mencapai puncak gunung. Di sanalah saya akan
merasa jauh lebih kuat dari sebelumnya. Saya kembali menangis merasakan
kehadiran-Nya di saat saya merasa sangat sendirian.
Saya lantas berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, saya ingin menjadi
lebih kuat. Saya sadar kalau bukan hanya saya yang mendapat pergumulan, tapi
ayah, ibu, tante, dan bahkan kedua sepupu saya juga. Saya ingin menjadi orang
yang lebih kuat agar saya juga dapat diandalkan di masa-masa sulit. Saya tidak
ingin menjadi beban tambahan untuk ayah dan ibu saya di rumah. Saya ingin
menjadi pribadi yang dewasa. Saya tahu bahwa Engkau akan selalu ada di samping
saya, mengangkat saya ketika saya jatuh. Jadi, saya ingin menyerahkan hidup
saya ke dalam tangan penyertaanMu Tuhan. Kalau Engkau membiarkan ini terjadi
dalam hidup saya, saya yakin ada rencana yang indah dibalik keberadaan setiap
kami di sini. Dan saya ingin agar saya dapat melakukan yang terbaik untuk
rencanaMu.”
Terima kasih Tuhan karena Engkau telah mengingatkan saya bahwa Engkau benar-benar Tuhan yang hidup, Tuhan yang nyata, Tuhan yang tak pernah meninggalkan saya. Saya tidak pernah merasa lebih diperhatikan daripada satu minggu ini dimana saya amat merasakan kehadiranMu dalam hidup saya. Walaupun saya tidak bisa melihat Engkau secara kasat mata, saya merasakan kehadiranMu lebih dari apa yang dapat saya lihat. Thank You Jesus.